Ringkasan Tokoh Surastri Karma Trimurti




Surastri Karma Trimurti lahir pada tanggal 11 Mei 1912, di Desa Sawahan,  Boyolali, Keresidenan Surakarta, yang dikenal sebagai S. K. Trimuti atau S.K. Trimoerti. Beliau adalah seorang wartawan, penulis, dan guru Indonesia, yang mengambil bagian dalam gerakan kemerdekaan Indonesia terhadap penjajahan oleh Belanda. Dan juga beliau menjadi tokoh perempuan yang memiliki peran sangat besar dalam perjuangan Indonesia, khususnya di dunia para penyambung lidah rakyat.

Trimurti memulai karirnya sebagai guru SD (sekolah dasar) setelah meninggalkan Tweede Indlandsche School. Dia mengajar di sekolah-sekolah dasar di Bandung, Surakarta dan Banyumas pada 1930-an. 

Pada bulan Agustus dan September 1932, Soekarno mengadakan perjalanan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur guna membuka rapat-rapat umum Partindo. Sebagai perempuan muda yang haus akan nilai-nilai dan semangat perjuangan, beliau mengikuti rapat umum itu. Inilah untuk pertama kalinya S. K Trimurti melihat dan mendengar secara langsung pidato Soekarno. Pidato Soekarno sangat mempengaruhi jiwa Trimurti sampai akhirnya dengan tekad bulat dilepaskannya status sebagai guru negeri dan ia memilih bergabung dengan Partindo (Partai Indonesia).

Beliau menjadi anggota Nasionalis Partindo pada tahun 1933. Dan menjadi pejuang militan, hingga akhirnya dipenjarakan Belanda 3 tahun kemudian karena menyebarkan pamflet anti-penjajah. Ia kemudian beralih karir dari mengajar ke dunia jurnalisme setelah bebas dari penjara, dan dari sana karir jurnalistiknya pun dimulai. Dia menjadi terkenal di kalangan jurnalistik dan anti-kolonial sebagai wartawan kritis.

Beliau sering menggunakan nama berbeda, dengan nama samaran dari nama aslinya, seperti 'Trimurti atau Karma', dalam tulisan-tulisannya untuk menghindari ditangkap lagi oleh pemerintah kolonial Belanda. Selama karier laporannya, Trimurti bekerja untuk sejumlah surat kabar Indonesia termasuk Genderang, Bedung dan Pikiran Rakyat

Setelah menikah dengan Sayuti Melik, SK Trimurti mendirikan majalah sendiri yang bernama Pesat. Dia menerbitkan Pesat bersama suaminya. Dalam era pendudukan Jepang, Pesat dilarang oleh pemerintah militer Jepang. Beliau ditangkap dan disiksa. 

Usai proklamasi Indonesia, Trimurti makin aktif menjadi sosok berpengaruh di bidangnya. Salah satunya dengan menjadi pimpinan pusat Partai Buruh Indonesia (PBI) pada tahun 1947-1948. Tak hanya itu, Trimurti tercatat menjadi menteri Perburuhan pertama. Beliau aktif memperjuangkan UU perburuhan baru sebagai ganti UU perburuhan kolonial yang memberatkan pekerja.

Pada tahun 1950-an, bersama sejumlah aktivis ia mendirikan Gerwis (Gerakan Wanita Sedar) yang kemudian diganti nama menjadi Gerwani. Trimurti meninggalkan organisasi ini pada tahun 1965 karena melihat Gerwani menyimpang dan lebih condong pada PKI ketimbang misi yang dibawanya.

Pada tanggal 20 Mei 2008, Beliau meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Ia meninggalkan bangsa yang telah diperjuangkannya pada usia 96 tahun. Tepat saat bangsa Indonesia merayakan 100 tahun hari kebangkitan nasional.





 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Service Level Management (SLM) dan Business Relationship Management (BRM)

MAKALAH LITERASI MEDIA

Augmented Reality (AR)